Produksi garam rakyat di pantura Jabar nihil

BANDUNG: Produksi garam rakyat di pantai utara Jawa Barat sepanjang 2010 diprediksikan nihil akibat gangguan cuaca ekstrem.Kab. Indramayu dan Kab. Cirebon yang merupakan penghasil terbesar garam rakyat di Jabar, bahkan harus mendatangkan bahan baku garam
News Editor
News Editor - Bisnis.com 08 Desember 2010  |  08:10 WIB

BANDUNG: Produksi garam rakyat di pantai utara Jawa Barat sepanjang 2010 diprediksikan nihil akibat gangguan cuaca ekstrem.Kab. Indramayu dan Kab. Cirebon yang merupakan penghasil terbesar garam rakyat di Jabar, bahkan harus mendatangkan bahan baku garam dari luar daerah dan impor untuk memasok kebutuhan industri pengolahan garam di wilayahnya. Kasie Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kab. Indramayu Yayat Supriatna mengemukakan pada kondisi normal petani garam Indramayu biasanya mampu memproduksi garam hingga 104.000 ton per musim.Hampir sepanjang tahun ini matahari terganggu terus oleh cuaca buruk sehingga petani tidak mau berisiko untuk berladang garam, katanya hari ini.Dia mengatakan terhentinya produksi garam itu tidak menyebabkan kerugian yang terlampau besar di kalangan petani. Sebab, mayoritas petani tersebut beralih profesi ke sektor perikanan.Menurut dia, penurunan drastis produksi garam tersebut hanya menyebabkan pasokan ke beberapa industri pengolahan garam di sejumlah tempat tersendat.Untuk mengatasi itu, sudah ada rencana mendatangkan bahan baku garam dari luar daerah seperti Jatim dan Jateng, katanya.Di Kab. Indramayu terdapat sekitar 1.600 petani garam dengan luas areal garapan 1.000 hektare. Sebagian besar petani garam itu merupakan petani penggarap, bukan pemilik lahan. Kondisi serupa juga terjadi di Cirebon. Petani garam Cirebon biasanya mampu memroduksi garam antara 20.000--27.000 ton per musim pada kondisi normal.Kabid Industri Disperindag Kab. Cirebon Supriadi mengatakan penurunan produksi itu cukup menganggu pasokan kebutuhan garam, baik untuk konsumsi maupun industri.Ada beberapa sektor yang membutuhkan pasokan garam berupa industri penyamakan, pengeringan ikan, dan lain-lain, katanya.Di Kab. Cirebon terdapat 1.500 petani garam dengan luas areal ladang garapan seluas 1.576 hektare. Sebagian besar petani garam itu merupakan petani penggarap, bukan pemilik lahan.Ketua Asosiasi Produsen Garam (APG) Jabar Cucu Sutara mengemukakan produksi industri pengolahan garam di Jabar juga terganggu akibat pasokan bahan baku yang kurang dari sentra garam di pantura.Dia menyebutkan kebutuhan garam konsumsi di Jabar mencapai 129.000 ton per tahun. Untuk industri mencapai 300.000 ton per tahun.Untuk mengatasi persoalan tersebut, katanya, akan masuk bahan baku garam yang diimpor dari India hingga 10.000 ton untuk memasok industri pengolahan garam di Jabar. Kalau tidak salah, bulan Januari 2011 sudah masuk ke Jabar, tuturnya.Di samping pasokan bahan baku yang tersendat, produsen garam di Jabar juga tertekan dengan derasnya produk garam impor serta maraknya produsen garam ilegal di Jabar.Cucu mengemukakan pada 2007 lalu jumlah industri pengolahan garam di Jabar mencapai 78 unit usaha. Akan tetapi hingga saat ini jumlah produsen garam tinggal 50 unit usaha.Dia menilai pelaku industri pengolahan garam di asosiasi, yang mayoritas industri kelas menengah ke bawah, sebetulnya masih mampu bersaing di pasar Jabar.Syaratnya harus ada tindakan tegas dari pemerintah terkait adanya produsen garam ilegal, katanya.Dia memperkirakan jumlah produsen garam ilegal di Jabar mencapai 50-100 pelaku usaha yang tersebar di sejumlah daerah.Terkait dengan lahirnya Perda No.15/2010 tentang Pengendalian Produksi dan Peredaran Garam, dia merespon positif perda tersebut yang diharapkan mampu menekan peredaran sekaligus produsen garam ilegal.Di dalam perda tersebut, salah satu pasalnya menyebutkan produsen garam di Jabar yang tidak menerapkan standar nasional indonesia (SNI) terancam sanksi pidana kurungan badan 3 bulan atau denda Rp50 juta."Kepada Satpol PP, jangan ragu-ragu lagi untuk menindak terutama kepada produsen garam ilegal," katanya.(k45)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top