PLN butuh US$97,1 miliar hingga 2019

JAKARTA: PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) membutuhkan dana sekitar US$97,1 miliar hingga 2019 untuk membangun pembangkit, transmisi, dan distribusi ketenagalistrikan sehingga peningkatan rasio elektrifikasi sebesar 91% bisa tercapai.Direktur Perencanaan
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 08 Desember 2010  |  15:30 WIB

JAKARTA: PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) membutuhkan dana sekitar US$97,1 miliar hingga 2019 untuk membangun pembangkit, transmisi, dan distribusi ketenagalistrikan sehingga peningkatan rasio elektrifikasi sebesar 91% bisa tercapai.Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang mengemukakan perkiraan kebutuhan dan rencana investasi ketenagalistrikan tersebut ditetapkan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) tahun 2010-2019."Kalau dilihat pada 2009 akhir, maka total penggunaan energi listrik di seluruh Indonesia itu sekitar 133 terrawatt hour [TWh] dan ini akan mencapai 327 TWh di 2019, sedangkan proyeksi rasio elektrifikasi mencapai 91%, tutur dia, hari ini.Kalau dirata-ratakan, jelas dia, kebutuhan investasi untuk peningkatan rasio elektrifikasi tersebut mencapai sekitar US$8 miliar-US$12 miliar per tahun hingga 2019. Proyeksi kebutuhan investasi tersebut, lanjut dia, bukan hanya untuk pembangunan pembangkit listrik oleh PLN, tetapi juga pengembang swasta (independent power producer/IPP), termasuk transmisi dan distribusi.Selain itu, dia menambahkan, proyeksi kebutuhan dana investasi tersebut hanya untuk biaya engineering, procurement, and contract (EPC), tidak termasuk IDC, financing cost, dan pajak. Rincian masing-masing proyeksi investasi hingga 2019 tersebut, papar dia, untuk pembangkit sekitar US$70,663 miliar, transmisi US$15,195 miliar, dan distribusi US$11,274 miliarMenurut dia, besarnya investasi untuk memperkuat sistem kelistrikan tersebut sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan listrik di Tanah Air. Dengan kebutuhan energi listrik sebesar 327 TWh di 2019 atau tumbuh rata-rata 9,17% per tahun, kata dia, beban puncak diperkirakan mencapai 59.302 Megawatt (MW) atau tumbuh rata-rata sebesar 9,55% per tahun.Sementara itu, lanjut dia, kebutuhan listrik di Jawa Bali diperkirakan akan meningkat dari 115,1 TWh pada 2010 menjadi sekitar 252,5 TWh di 2019 atau tumbuh rata-rata 8,97% per tahun. Begitu juga dengan kebutuhan listrik di Indonesia bagian timur akan meningkat dari 11,3 TWh pada tahun ini menjadi 20,1 TWh atau tumbuh rata-rata 10,6% per tahun. Untuk wilayah Indonesia bagian barat tumbuh dari 21,4 TWh pada 2010 menjadi 54,8 TWh pada 2019 atau tumbuh rata-rata 10,2% per tahun. Proyeksi itu ditetapkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2019 mencapai 6,1%."Nasri menerangkan prediksikan konsumsi listrik secara nasional pada tahun ini diperkirakan mencapai 147,1 TWh dengan beban puncak sebesar 26.371 MW. Sampai Oktober 2010, jelas dia, realisasi rasio elektrifikasi sudah mencapai 66,28% dengan 38,486 juta pelanggan rumah tangga yang sudah mendapatkan listrik.Dia memproyeksikan jumlah pelanggan PLN akan terus meningkat dari sekitar 42,1 juta pelanggan pada tahun ini menjadi 66 juta pelanggan pada 2019.(yn)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top