Panja usul Bulog kembali jadi buffer stock

JAKARTA: Panja Swasembada Gula merekomendasikan kepada pemerintah agar mengembalikan fungsi Bulog sebagai buffer stock komoditas sekaligus meminta agar pelaksanaan impor gula diberikan kepada Bulog terkait fungsi buffer stok gula nasional itu.Ketua Panja
Adi Ginanjar Maulana | 08 Desember 2010 11:07 WIB

JAKARTA: Panja Swasembada Gula merekomendasikan kepada pemerintah agar mengembalikan fungsi Bulog sebagai buffer stock komoditas sekaligus meminta agar pelaksanaan impor gula diberikan kepada Bulog terkait fungsi buffer stok gula nasional itu.Ketua Panja Swasembada Gula Ario Bima mengatakan peran Bulog sebagai pengelola stok penyangga sangat penting terutama dalam posisi kelangkaan gula nasinal dan pergerakan harga komoditas yang tak terkendali.Sering ketika produksi gula tidak tercapai, ada permainan di tingkat distribusi yang menyebabkan harga gula tidak terkendali. Bulog harus memposisikan dirinya sebagai buffer stock nasional, terutama dalam keadaan kelangkaan barang maupun harga yang liar tidak terkendali, tegas Ario Bima dalam Rapat Panja Swasembada Gula, kemarin.Hadir dalam Panja Gula tersebut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, Menteri Pertanian Suswono, dan Menneg BUMN Mustafa Abubakar.

Ario menjelaskan selain mengoptimalkan ketersediaan gula secara nasional dan menjaga harga gula tetap memberikan perlindungan kepada konsumen namun tetap memberikan suatu jaminan keuntungan kepada petani, peran pemerintah mutlak diperlukan khususnya dalam mata rantai distribusi.Percuma kita mendesain stok gula nasional dengan meningkatkan kapasitas produksi tapi di mata rantai distribusinya negara tidak berperan dan hanya akan dipermainkan oleh kalangan kartel gula secara nasional, ungkap Ario.Menneg BUMN Mustafa Abubakar mengatakan dengan stok sebesar 600.000 ton saja yang ada gudang Bulog, peran Bulog sebagai buffer stock akan efektif dalam kaitan dengan upaya stabilisasi harga di dalam negeri.Sementara itu, terkait rekomendasi Panja terhadap peran bulog sebagai importir tunggal dinilai akan sangat memudahkan pengendalian dan pengawasan.Oleh karena itu, saya menyambut baik apabila ada penugasan kepada Bulog baik sebagai importir tunggal maupun sebagai penyelenggara buffer stock untuk stabilisasi harga, kata Mustafa.Dia mengakui peran tersebut akan menimbulkan konsekuensi pendanaan dari APBN, namun Mustafa mengatakan masalah pendanaan seharusnya tidak perlu dikhawatirkan karena dengan sistem one gate policy yang dijalankan Bulog, BUMN tersebut berani melakukan investasi untuk modal kerja dalam rangka pengadaan gula impor sekalipun.Mustafa menambahkan dengan mengalihkan peran Bulog sebagai importir tunggal, maka tugas rangkap yang selama ini diemban oleh PTPN yakni produsen gula dan importir gula menjadi lebih ringan.Akan dikajiMenteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan dalam rangka mencegah atau mengatur lonjakan harga, pihaknya akan mengkaji mekanisme buffer stock atau sistem distribusi perdagangan lain yang lebih efisien untuk melihat cost and benefit-nya.Harus dilihat siapa yang akan melakukan, bagaimana melakukannya, dan siapa yang dibolehkan impor. Itu harus dilihat, ungkapnya.Dia juga mengatakan terkait dengan buffer stock, ada konsekuensi pembiayaan yang harus ditanggung meskipun terbuka peluang adanya sumber pendanaan dari perbankan dan pinjaman komersial.Selain itu, lanjut dia, jumlah volume yang harus dipegang sebagai stok penyangga pun harus ditentukan. Dia mencontohkan pada komoditas beras, di mana Bulog diminta untuk memegang 1,5 juta ton.Kita harus mendalami dengan baik dan komprehensif sehingga kita menjalankan kebijakan ini dengan baik dan tepat sasaran. Ario Bima juga menambahkan besarnya stok penyangga dapat dihitung dari volume kebutuhan gula selama dua bulan.Kalau kebutuhan selama sebulan 260.000 ton, maka stok yang diperlukan sebagai penyangga adalah dua kali dari jumlah itu. (msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top