Konsumsi garmen diproyeksi naik 15%

manda
manda - Bisnis.com 07 Desember 2010  |  00:23 WIB

JAKARTA : Konsumsi garmen di pasar domestik pada 2011 diproyeksi naik sebesar 15%, didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi yang memengaruhi peningkatan daya beli masyarakat.

Direktur Eksekutif Indotextiles Redma Gita Wirawasta mengatakan konsumsi garmen pada tahun ini diproyeksi mencapai 1,2 juta ton, naik dari tahun lalu sebanyak 1,05 juta ton.

Angka proyeksi konsumsi 15% pada tahun depan akan terealisasi apabila didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi yang memengaruhi daya beli, katanya, hari ini.

Dia menambahkan prediksi pertumbuhan konsumsi 15% akan lebih mudah terealisasi apabila banyak investasi baru yang masuk ke Indonesia, terutama penambahan mesin tekstil. Pasalnya, hal itu akan mendongkrak kapasitas produksi yang saat ini masih terbatas.

Namun, kata Redma, pemerintah harus bisa menjamin adanya pasokan energi terutama listrik guna menarik investor. Apabila ada jaminan pasok energi ini, konsumsi garmen diproyeksikan tumbuh lebih tinggi yakni mencapai 30% pada tahun depan.

Selama ini, investasi yang masuk itu masih terbentur dengan masalah energi. Kalau ada listrik, para investor pasti akan banyak yang masuk, ujarnya.

Redma menambahkan ekspor garmen pada tahun depan juga diprediksi meningkat 15%, dari tahun ini yang diproyeksi menembus US$6,7 miliar. Pada kuartal III/2010, ekspor garmen nasional naik 12% dibandingkan dengan periode yang sama 2009. Adapun ekspor tekstil naik 30% pada kuartal III/2010 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor kapas sepanjang Januari-Oktober mencapai US$1,77 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, impor kapas sebesar US$1,17 miliar, khusus di Oktober meningkat menjadi US$55 juta dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Terkait hal itu, Redma mengungkapkan, kenaikan tersebut sejalan dengan total impor serat [bahan baku utama tekstil] yang mencapai 624.000 ton sepanjang Januari-September. Pada periode yang sama tahun lalu, total impor serat sebesar 531.000 ton, dimana kapas menyerap porsi terbesar impor yakni 80%.

Dia menjelaskan impor poliester juga mengalami kenaikan sebesar 18% pada kuartal III/2010. Namun, impor kapas masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan poliester, terutama dari sisi nilai, karena harga kapas yang lebih mahal.

Pertumbuhan impor kapas itu melambat karena tren harga komoditas ini akan cenderung menurun pada tahun depan sekitar 16%,ucap Redma.

Pada saat ini, harga kapas mencapai US$2,8 per kg. Sementara harga poliester pada Agustus 2010 sebesar US$1, 7 per kg. Kenaikan harga kapas akan mengerek harga poliester naik.

Lebih lanjut, Redma menambahkan impor garmen ilegal pada tahun depan diproyeksikan meningkat 15%-20%. Sejak diimplementasikan kerjasama perdagangan bebas dengan Asean-China ( ACFTA), kata Redma, sebanyak 60 harmonized system (HS) garmen masih dikenakan bea masuk sebesar 15% hingga 2015.

Setelah 2015, Redma meyakini impor garmen ilegal akan mengalami penurunan drastis apabila pemerintah bisa melakukan pengawasan secara ketat, terutama melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 56/2008.

Apabila Permendag 56 bisa efektif, dan pemerintah secara intensif melakukan inspeksi mendadak), saya perkirakan impor garmen ilegal akan berkurang banyak sekali, tutup Redma.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top